Ketika Gerobak Menjadi Kurator Memori Kolektif
Street food Indonesia bukan sekadar urusan perut. Di balik setiap gerobak, lapak, dan tenda kaki lima, tersimpan lapisan makna budaya yang telah diwariskan lintas generasi. Beberapa kuliner jalanan bahkan telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) tingkat nasional, sebuah pengakuan bahwa makanan bukan hanya soal gizi, tetapi juga identitas.
Sego Berkat dari Gunungkidul, misalnya, tengah diusulkan sebagai WBTb karena dinilai sarat nilai budaya dan memiliki makna filosofis mendalam. Dalam tradisi rasulan dan slametan, Sego Berkat menjadi sajian utama yang tidak terpisahkan, berisi nasi tumpeng, lauk pauk, bihun, oseng cabai hijau, srundeng, hingga kerupuk. Keunikan lain terletak pada pembungkusnya yang masih menggunakan daun jati, memberikan aroma khas sekaligus mencerminkan kearifan lokal dalam memanfaatkan bahan alami.
Yang menarik, Sego Berkat kini tidak hanya hadir dalam hajatan tradisional. Banyak pelaku UMKM telah mengembangkannya sebagai menu komersial dengan kemasan menyerupai berkat tradisional, menjualnya kepada perantau yang merindukan cita rasa kampung halaman. Transformasi dari sajian ritual menjadi produk kuliner jalanan menunjukkan bagaimana tradisi dapat beradaptasi tanpa kehilangan esensi.
Bubur Peca’ dan Amparan Tatak: Rasa yang Diakui Negara
Di Kalimantan Timur, dua takjil asli Samarinda—bubur peca’ dan amparan tatak—telah resmi menyandang status Warisan Budaya Takbenda tingkat nasional berkat upaya pelestarian kuliner oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. Pengakuan ini bukan sekadar formalitas administratif, melainkan pengakuan bahwa kuliner jalanan adalah bagian dari ekosistem budaya yang layak dilindungi dan dipromosikan.
Empat kuliner khas Kaltim lainnya juga tercatat sebagai warisan takbenda nasional, termasuk Amplang Samarinda, Jajak Juragan Mabok dari Kutai Kartanegara, serta sejumlah hidangan tradisional lainnya. Setiap hidangan ini membawa cerita tentang bahan lokal, teknik pengolahan turun-temurun, dan konteks sosial yang melatarbelakangi kehadirannya.
Di Lombok, sate bulayak—kuliner khas Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat—menjadi menu pilihan berbuka puasa dengan cita rasa gurih dan pedas yang khas. Sementara di Banjarmasin, es pisang ijo yang terdiri dari pisang dibalut adonan hijau, bubur sumsum, mutiara, sirop manis, dan es menciptakan kombinasi tekstur dan rasa yang unik serta menyegarkan.
Wonderful Indonesia Gastronomy: Membawa Kuliner Jalanan ke Panggung Global
Kementerian Pariwisata melalui platform Wonderful Indonesia Gastronomy (WIG) 2026 telah memperluas fokus dari sekadar gastronomi gourmet menjadi gerakan gastronomi yang lebih luas. Dengan tema “From Roots to Recognition,” WIG 2026 merayakan kekayaan budaya pangan Indonesia dengan mempertemukan petani, nelayan, pengrajin, koki, UMKM, komunitas lokal, dan pemangku kepentingan pariwisata dalam ekosistem gastronomi yang berkelanjutan.
Yang menarik, platform ini secara eksplisit mencantumkan Street Food Guide sebagai salah satu program unggulan. Ini menandakan pengakuan resmi bahwa kuliner jalanan adalah bagian integral dari narasi gastronomi Indonesia, bukan sekadar pelengkap. Melalui pendekatan berbasis destinasi, imersi budaya, dan kolaborasi industri, WIG 2026 berupaya mendorong aktivasi ekonomi, mempromosikan destinasi Indonesia, dan memposisikan negara ini sebagai destinasi gastronomi terkemuka di panggung global.
Tantangan Pelestarian di Era Modernisasi
Meskipun pengakuan budaya terus mengalir, tantangan pelestarian tidak semakin ringan. Perubahan pola hidup masyarakat, masuknya makanan cepat saji global, dan pergeseran selera generasi muda menciptakan tekanan tersendiri bagi keberlangsungan kuliner tradisional. Banyak resep warisan yang hanya dikuasai oleh generasi tua, sementara kaum muda cenderung memilih jalur karier di sektor formal.
Di sinilah peran street food menjadi krusial. Pedagang kaki lima adalah penjaga terakhir banyak resep tradisional yang tidak lagi ditemukan di restoran mewah. Mereka mempertahankan teknik memasak, kombinasi bumbu, dan penyajian yang telah teruji oleh waktu. Ketika seorang perantau merindukan rasa masakan kampung halaman, gerobak kaki lima sering kali menjadi satu-satunya tempat di mana memori rasa itu masih hidup.
Pelestarian kuliner jalanan membutuhkan ekosistem yang mendukung—dari ketersediaan bahan baku lokal, regenerasi pedagang muda, hingga kebijakan yang memberi ruang bagi usaha mikro untuk berkembang. Dengan menjaga street food Indonesia, kita tidak hanya menjaga sumber pendapatan bagi jutaan keluarga, tetapi juga menjaga identitas budaya yang membuat masakan Indonesia berbeda dari yang lain di mata dunia.