Invasi budaya pop Korea tidak hanya memanjakan mata dan telinga, tetapi juga lidah. Melalui layar kaca dan ponsel, terjadi akulturasi kuliner yang menciptakan genre jajanan baru di Indonesia yang tidak melulu soal rasa, tetapi juga pengalaman.
Efek “Mukbang” dan “K-drama”
Fenomena mukbang (siaran makan) dan adegan makan di drama Korea telah mengubah peta jajanan kaki lima di Indonesia. Makanan seperti Tteokbokki (kue beras pedas) dan Corndog bukan lagi sekadar camilan asing. Riset yang dipublikasikan oleh GoodStats pada awal 2026 bertajuk “Lanskap Kuliner Nusantara 2026” menunjukkan bahwa pencarian kata kunci “Tteokbokki Mozzarella” dan “Korean Garlic Bread” di layanan pesan-antar makanan naik hingga 200% di kota-kota tier-2 seperti Pekanbaru dan Samarinda. Data selengkapnya dapat diakses dalam infografis interaktif GoodStats “K-Wave Food Index 2026”. Ekspansi ini menjangkau wilayah yang bahkan tidak memiliki populasi keturunan Korea yang signifikan.
Lahirnya Kuliner “Nusantara-K”
Yang menarik adalah kreativitas pelaku UMKM Indonesia dalam melakukan adaptasi. Mereka menciptakan varian hibrida yang tidak akan ditemukan di Seoul. Contoh paling viral di media sosial sepanjang kuartal pertama 2026 adalah “Tteokbokki Kuah Soto” dan “Ramen Carbonara Rendang”. Ini adalah bentuk glokalisasi di mana saus pedas-manis Korea (gochujang) bertemu dengan rempah-rempah Nusantara. Meski terdengar aneh bagi puritan kuliner, produk ini ludes terjual karena dianggap relevan dengan lidah lokal sekaligus memberikan citra modern a la Korea.
Romantisme dan Pengalaman Sinematik
Mengapa fenomena ini bertahan? Jawabannya adalah romantisme sinematik. Konsumen tidak sekadar membeli corndog, tetapi mereka membeli memori adegan Park Seo-joon memakannya di Itaewon Class. Sebuah kedai tenda di pinggir jalan Jakarta Selatan mendadak viral dan dipadati pembeli hanya karena pemiliknya memutar lagu-lagu OST drama Korea dan menyediakan meja lipat ala pojangmacha (tenda makan kaki lima Korea). “Rasanya seperti menjadi karakter utama,” ujar salah satu pengunjung. Hal ini membuktikan bahwa experiential dining menjadi kunci utama.
Potensi Destinasi Wisata Baru
Pemerintah kota mulai melihat ini sebagai peluang. Kawasan yang dipenuhi kios Korean Street Food kini diusulkan menjadi destinasi wisata tematik. Misalnya, beberapa titik di Pasar Lama Tangerang yang dulunya lesu, kini bertransformasi menjadi “Little Korea” dadakan saat malam akhir pekan. Transformasi ini menunjukkan bahwa budaya pop dapat menjadi katalisator regenerasi ruang publik yang lebih dinamis dan menguntungkan sektor informal.