Kualitas udara di sebuah kota tidak hanya ditentukan oleh aktivitas di dalam wilayah tersebut. Polutan dapat berpindah mengikuti arah angin, kondisi atmosfer, suhu, dan karakter geografis.
Karena itu, kebijakan satu pemerintah kota belum tentu cukup apabila sumber emisi berasal dari kawasan industri, pembangkit energi, jalan penghubung, atau wilayah lain di sekitarnya.
Laporan dan data global mengenai paparan serta dampak kesehatan polusi udara dapat ditelusuri melalui State of Global Air: https://www.stateofglobalair.org/.
Transportasi Menjadi Sumber yang Terlihat Setiap Hari
Kemacetan membuat kendaraan bergerak lambat dan menghabiskan waktu lebih lama di jalan. Kendaraan dengan perawatan buruk atau teknologi emisi lama dapat melepaskan lebih banyak polutan.
Paparan tertinggi tidak selalu dialami pengemudi mobil. Pejalan kaki, pesepeda, pengendara sepeda motor, pedagang, petugas jalan, dan warga yang tinggal dekat koridor lalu lintas dapat menghirup emisi secara langsung.
Pengujian emisi, peremajaan angkutan umum, elektrifikasi transportasi, pengendalian kendaraan berat, dan pengembangan kawasan ramah pejalan kaki menjadi bagian penting dari solusi.
Industri, Energi, dan Debu Konstruksi
Kawasan industri dan pembangkit berbahan bakar fosil dapat menghasilkan partikulat serta gas pencemar apabila pengendalian emisinya tidak memadai. Pengawasan perlu dilakukan secara konsisten, bukan hanya setelah keluhan masyarakat menjadi viral.
Aktivitas konstruksi juga menghasilkan debu. Material yang tidak tertutup, pembongkaran bangunan, kendaraan proyek, dan jalan yang kotor dapat meningkatkan partikulat di lingkungan sekitar.
Pembakaran Terbuka Memperburuk Paparan Lokal
Membakar sampah rumah tangga masih terjadi di sejumlah permukiman. Asapnya mengandung campuran partikel dan senyawa berbahaya, terlebih apabila sampah yang dibakar mencakup plastik atau bahan sintetis.
Kebakaran hutan dan lahan menimbulkan persoalan dengan skala lebih besar. Asap dapat bergerak lintas kabupaten, provinsi, bahkan negara, sekaligus mengganggu transportasi, sekolah, kegiatan ekonomi, dan pelayanan kesehatan.
Dampak Kesehatan Terjadi dari Hulu ke Hilir
Ketika berbagai sumber emisi bertemu, masyarakat menerima paparan secara berulang. Anak dapat menghirup polusi saat berangkat sekolah, orang tua terpapar di perjalanan kerja, dan lansia tetap menghirup partikel yang masuk ke rumah.
Dampaknya dapat berupa iritasi, batuk, serangan asma, penurunan fungsi paru, serta peningkatan risiko penyakit kardiovaskular dan pernapasan dalam jangka panjang.
Beban tersebut juga terlihat pada meningkatnya kebutuhan berobat, absensi sekolah, hilangnya jam kerja, dan pengeluaran rumah tangga untuk perlindungan kesehatan.
Solusi Membutuhkan Data yang Transparan
Stasiun pemantauan kualitas udara perlu tersebar secara representatif dan datanya dapat diakses masyarakat. Informasi mengenai sumber emisi juga penting agar kebijakan tidak hanya didasarkan pada dugaan.
Pemerintah pusat dan daerah perlu menyusun target pengurangan emisi yang terukur, memperkuat transportasi publik, mengawasi industri, mempercepat transisi energi, dan menyediakan sistem pengelolaan sampah yang mencegah pembakaran.
Masyarakat dapat membantu dengan tidak membakar sampah, merawat kendaraan, mengurangi perjalanan yang tidak perlu, serta melaporkan sumber pencemaran. Namun, perubahan perilaku individu tidak dapat menggantikan regulasi terhadap sumber emisi berskala besar.
Udara bersih membutuhkan kerja lintas sektor dan lintas wilayah. Ketika pengendalian dilakukan secara terpisah, polutan tetap bergerak dan risiko kesehatan terus ditanggung masyarakat.