Lonjakan Biaya Kesehatan dan Jawaban dari Genomik
Pembiayaan kesehatan Indonesia terus melonjak akibat meningkatnya prevalensi penyakit kronis. Kementerian Kesehatan mempercepat implementasi kedokteran presisi sebagai jawaban atas tantangan ini. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan bahwa melalui BGSI, pengobatan kini diarahkan pada pendekatan berbasis profil genetik individu yang lebih akurat dan efisien.
Logika ekonominya sederhana namun powerful: terapi yang tepat sasaran akan memangkas biaya pengobatan yang berlarut-larut akibat diagnosis yang tidak akurat. Wakil Menteri PPN/Wakil Kepala Bappenas, Febrian Alphyanto Ruddyard, menegaskan, “Jika terapinya tepat, pemborosan biaya pengobatan bisa dihindari. Keuangan negara di sektor kesehatan akan menjadi jauh lebih efektif”.
Pasar Precision Medicine Non-Onkologi: Proyeksi 2026-2032
Data pasar memberikan gambaran tentang skala ekonomi precision medicine di Indonesia. Pasar precision medicine non-onkologi Indonesia diperkirakan mencapai USD 360 juta pada 2025 dan diproyeksikan mencapai USD 474 juta pada 2032, tumbuh dengan CAGR 4,0% dari 2026 hingga 2032.
Angka ini belum termasuk segmen onkologi yang nilainya jauh lebih besar. Dengan lebih dari 408 ribu kasus kanker baru setiap tahun, kebutuhan akan diagnostik molekuler dan terapi presisi menjadi pasar yang signifikan sekaligus tantangan aksesibilitas.
Willingness to Pay: Berapa yang Mau Dibayar Masyarakat?
Sebuah studi pertama di Indonesia yang mengeksplorasi willingness to pay (WTP) untuk tes risiko kanker payudara herediter BRCA1/2 memberikan wawasan penting. Studi yang dilakukan di provinsi dengan prevalensi tertinggi ini menemukan bahwa rata-rata maksimum WTP dari 282 responden adalah Rp1.345.638 (US$81,17) dengan tingkat co-payment 0,24.
Temuan ini menunjukkan bahwa masyarakat memiliki kemauan membayar, namun jumlahnya masih di bawah biaya tes genomik yang sesungguhnya. Ini menegaskan perlunya intervensi pemerintah melalui skema pembiayaan yang inklusif.
Kolaborasi Industri: Mempercepat Akses Layanan
Sektor swasta memainkan peran krusial dalam mempercepat akses layanan precision medicine. Kolaborasi Diastika Biotekindo (CHEK) dengan KALGen Innolab yang diumumkan pada Oktober 2026 bertujuan menyeimbangkan ketersediaan layanan diagnostik genomik dengan kebutuhan pasar.
Sementara itu, AstraZeneca Indonesia dan RS Kanker Dharmais menjalin kolaborasi untuk memperkuat layanan diagnostik presisi kanker. Presiden Direktur AstraZeneca Indonesia, Esra Erkomay, menegaskan komitmen ini tidak hanya diwujudkan melalui terapi inovatif, tetapi juga melalui penguatan ekosistem diagnostik yang membantu pasien memperoleh terapi tepat sesuai karakteristik penyakitnya.
Gene Bank dan Investasi Infrastruktur Jangka Panjang
Investasi infrastruktur genomik juga mencakup pembangunan Gene Bank Indonesia yang diproyeksikan menjadi pusat penyimpanan dan riset material genetik terbesar di Indonesia serta yang pertama di Asia Tenggara. Proyek yang dikerjakan Brantas Abipraya ini ditargetkan selesai pada 2027.
Untuk tahun 2026, pemerintah telah menyetujui dukungan anggaran sebesar Rp30 miliar—lebih efisien dibanding rencana awal Rp300 miliar. Efisiensi anggaran ini menunjukkan bahwa precision medicine dapat diimplementasikan dengan pendekatan yang cost-effective.
Ketua DEN: Genomik untuk Ketahanan Pangan dan Ekonomi
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Panjaitan, mendorong agar inisiatif genomik tidak berhenti pada urusan medis. Ia menekankan bahwa optimasi sumber daya genetik nasional adalah kunci tidak hanya pada ketahanan kesehatan, namun juga ketahanan pangan serta ekonomi nasional di masa depan. “Potensi sumber daya genetik kita harus dikelola secara optimal,” tegasnya.
Visi ini memperluas cakupan precision medicine dari sekadar pengobatan menjadi platform ekonomi yang mencakup bioteknologi pertanian, biodiversitas, dan industri kesehatan berbasis inovasi.
Maraton, Bukan Sprint
Wakil Menteri PPN mengingatkan bahwa proyek genomik adalah “lari maraton” yang membutuhkan konsistensi dan komitmen jangka panjang, bukan hasil instan. Investasi hari ini dalam infrastruktur genomik, pengembangan SDM, dan tata kelola data akan menentukan posisi Indonesia dalam peta precision medicine global satu dekade ke depan.