Regenerasi Penenun Muda dan Masa Depan Wastra di Tangan Gen Z

Regenerasi Penenun Muda dan Masa Depan Wastra di Tangan Gen Z

Pelatihan Menenun untuk Generasi Berikutnya

Pelestarian songket Melayu Riau terus didorong melalui pendokumentasian dan pengembangan keterampilan generasi muda. Di Pekanbaru, Evimeiroza—pemilik gelar Puan Sri Julang Songket Negeri—berharap Dekranasda dan PKK terus memberikan pelatihan menenun kepada anak-anak dan generasi muda. Menurutnya, pelatihan tersebut tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga mendorong generasi muda untuk mengembangkan hingga memasarkan produk songket. Pendekatan ini menempatkan regenerasi sebagai bagian dari strategi ekonomi, bukan sekadar kegiatan budaya.

Dari Desa Merah Mata hingga Panggung Nasional

Di Desa Merah Mata, Kabupaten Banyuasin, empat penenun muda mulai mengubah benang menjadi kain songket. Program yang melibatkan PLN ini menunjukkan bahwa regenerasi dapat berjalan ketika ada dukungan infrastruktur dan pendampingan usaha. Sementara itu, di tingkat nasional, Jabu Bonang—Yayasan Rumah Komunitas Wastra—menaungi lebih dari 300 perajin binaan yang tersebar di Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan, Dairi, Simalungun, Pematangsiantar, hingga Pulau Samosir. Skala ini memperlihatkan bahwa regenerasi tidak harus dimulai dari nol; komunitas yang sudah ada dapat menjadi motor penggerak.

Teknologi Tenun dan Adaptasi Industri

Jabu Bonang konsisten menggunakan Alat Tenun Gedogan dan mengembangkan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) untuk menghasilkan kain yang adaptif bagi kebutuhan industri fesyen. Artinya, modernisasi bukanlah lawan dari tradisi. Sebaliknya, teknologi tepat guna dapat membantu penenun memenuhi standar produksi tanpa mengorbankan karakter tangan. Di panggung IFW 2026, karya Jabu Bonang dipadukan dengan koleksi siap pakai dari Tobatenun dan rancangan Djuita, menghadirkan interpretasi baru atas wastra Batak melalui siluet modern dan dekonstruksi bentuk.

Gen Z dan Wastra yang Mudah Dikenakan

Di Jakarta Muslim Fashion Week 2026, tenun ikat Sintang diolah menjadi busana modest modern melalui koleksi “Woven Silence” oleh BORNNEO x Jazila. Material katun dan linen, palet earth tone, serta siluet I-line membuat tenun terasa lebih mudah dikenakan sehari-hari. Pendekatan ini penting karena Gen Z tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga penentu arah tren. Ketika wastra hadir dalam potongan yang relevan dan nyaman, adopsinya akan lebih luas.

Ekosistem yang Harus Terus Dijaga

Regenerasi penenun muda tidak bisa berjalan sendiri. Dibutuhkan pasar yang stabil, akses bahan baku, perlindungan motif, dan narasi yang membuat wastra terasa relevan. Liputan RRI mengenai pelestarian songket melalui pelatihan generasi muda menunjukkan bahwa upaya ini telah menjadi agenda daerah, tetapi skalanya masih perlu diperluas. Dengan kata lain, masa depan wastra tidak hanya ditentukan oleh desainer di runway, tetapi juga oleh tangan-tangan muda yang memilih untuk terus menenun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *