Data 2026 Membuktikan: Hiperlokalitas Bukan Tren Sesaat, Ini Pergeseran Perilaku

Data 2026 Membuktikan: Hiperlokalitas Bukan Tren Sesaat, Ini Pergeseran Perilaku

Ketika Marriott International merilis laporan Future of Food 2027 pada Oktober 2026, Indonesia muncul sebagai salah satu contoh paling jelas dari pergeseran menuju kuliner hiperlokal. Dua pertiga restoran Indonesia yang disurvei melaporkan meningkatnya permintaan terhadap masakan khas lokal, dibandingkan dengan 46% di Asia Pasifik secara keseluruhan. Angka ini bukan sekadar statistik; ia menunjukkan bahwa preferensi konsumen telah berubah secara terukur.

85% Properti Menilai Autentisitas Lokal sebagai Atribut Menu Paling Berpengaruh

Dalam profil Indonesia, 85% properti menyatakan bahwa autentisitas lokal adalah atribut menu yang paling memengaruhi tamu, jauh di atas rata-rata regional 69%. Laporan tersebut mengaitkannya dengan keanekaragaman hayati dan warisan kuliner Indonesia, serta meningkatnya minat terhadap makanan nabati dan vegan. Marriott bahkan menyebut Locavore NXT di Bali dan August di Jakarta sebagai contoh dapur yang berhasil menerjemahkan hiperlokalitas ke dalam pengalaman bersantap premium.

Survei Jakpat: 61% Pilih Warung Lokal

Data dari Jakpat 2025 yang dikutip dalam beberapa laporan 2026 memperkuat gambaran tersebut: 61% masyarakat memilih makan di warung lokal dan 58% memilih pedagang kaki lima. Bagi Gen Z, comfort food Nusantara menjadi semacam jangkar di tengah derasnya tren kuliner global. Raditya Beer dari UFS Indonesia menyebut bahwa di tengah maraknya makanan Korea dan Jepang, ada satu hal yang selalu membuat Gen Z ingin kembali: masakan Indonesia.

Pasar Hyperlocal Food Delivery: USD 8–11 Miliar pada 2026

Dari sisi rantai pasok, IndexBox memperkirakan pasar hyperlocal food delivery Indonesia mencapai GMV USD 8–11 miliar pada 2026 dan tumbuh menjadi USD 28–38 miliar pada 2035. Model dark store tumbuh paling cepat dengan CAGR 22–28%, sementara model marketplace aggregator masih menguasai 55–65% volume transaksi. Namun, laporan yang sama mencatat bahwa 35–45% barang yang dijual melalui platform hyperlocal masih berasal dari importir atau distributor merek asing, menunjukkan bahwa hiperlokalitas rantai pasok belum sepenuhnya tercapai.

Hiperlokalitas sebagai Jawaban atas Globalisasi Rasa

Gerakan hiperlokal muncul sebagai respons terhadap globalisasi rasa yang sempat mendominasi. Banyak chef kini merasa terpanggil untuk merayakan identitas kuliner nasional, sementara konsumen modern semakin sadar akan asal-usul makanan dan mencari transparansi dalam proses pengolahan. Kerja sama langsung antara dapur restoran dan komunitas penghasil bahan baku menjadi kunci menjaga kualitas dan keunikan rasa. Data 2026 menunjukkan bahwa preferensi ini tidak surut, melainkan menguat dan membentuk masa depan kuliner Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *